Kamis, 22 April 2010

DIATAS LANGIT ADA LANGIT

Hadis riwayat Ubay bin Kaab ra.:
Dari Said bin Jubair ia berkata: Aku pernah berkata kepada Ibnu Abbas ra. bahwa Naufan Al-Bukali beranggapan bahwa Musa as. nabi Bani Israel adalah bukan Musa yang menjadi sahabat Khidhir. Ibnu Abbas berkata: Musuh Allah adalah pembohong. Aku pernah mendengar Ubay bin Kaab ra. berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Musa as. pernah berdiri berpidato di tengah-tengah Bani Israel. Dia (Musa) lalu ditanya: Siapakah manusia yang paling berilmu? Dia jawab: Akulah orang yang paling berilmu. Allah lantas menegurnya karena dia tidak mengembalikan ilmu kepada Allah. Allah lalu memberi wahyu kepadanya bahwa salah seorang hamba-Ku yang menetap di tempat pertemuan dua lautan adalah lebih berilmu daripada kamu. Selanjutnya Musa bertanya: Wahai Tuhanku, bagaimana aku dapat bertemu dengannya? Dikatakan kepadanya: Bawalah seekor ikan dalam sebuah keranjang. Di mana saja kamu kehilangan ikan tersebut, maka di situlah dia berada. Kemudian Musa pun berangkat bersama muridnya bernama Yusya` bin Nun. Musa as. membawa ikan tersebut dalam sebuah keranjang. Dia dan muridnya berangkat dengan berjalan kaki sampai keduanya mencapai sebuah batu karang besar dan tidurlah Musa as. dan muridnya. Sementara ikan yang berada dalam keranjang bergerak dan keluar dari keranjang lalu jatuh ke laut. Kemudian Allah menahan ombak, sehingga menjadi seperti sebuah lengkungan buat melintas ikan tersebut. Musa as. dan muridnya terheran-heran. Mereka meneruskan sisa perjalanan pada siang dan malam hari sedangkan murid Musa as. lupa untuk memberitahukannya. Keesokan paginya Musa as. berkata kepada muridnya: Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini. Tetapi (Musa as.) tidak akan merasa letih sebelum dia sampai di tempat yang diperintahkan. Muridnya berkata: Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di sebuah batu karang tadi, aku lupa menceritakan tentang ikan itu, setanlah sebenarnya yang membuatku lupa untuk menceritakannya, ikan itu telah masuk ke laut dengan cara yang sangat aneh sekali. Selanjutnya Musa as. berkata: Kalau begitu itulah tempat yang kita cari. Keduanya lalu kembali. Keduanya mengikuti jejak mereka semula. Hingga ketika mereka tiba di batu karang tadi Musa tiba-tiba melihat seorang lelaki yang berselimut dengan sebuah pakaian dan itulah Khidhir. Musa as. mengucapkan salam kepadanya. Khidhir bertanya kepadanya: Ternyata di negerimu terdapat salam! (Musa as.) berkata: Aku adalah Musa. Khidhir bertanya: Musa Bani Israel? Dia menjawab: Ya. Khidhir berkata: Sesungguhnya kamu memiliki ilmu dari ilmu-ilmu Allah yang telah diajarkan Allah kepada kamu yang aku tidak ketahui. Sebaliknya aku juga memiliki ilmu dari ilmu-ilmu Allah yang telah diajarkan Allah kepadaku yang tidak kamu ketahui. Musa as. berkata kepada Khidhir: Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu? Khidhir menjawab: Sesungguhnya kamu tidak akan sabar bersamaku. Bagaimana kamu bisa sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu? Musa as. berkata: Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusanpun. Khidhir berkata kepadanya: Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan tentang sesuatu apapun sampai aku sendiri yang akan menerangkannya kepadamu. Musa menjawab: Baiklah. Khidhir dan Musa as. lalu berangkat dengan berjalan kaki di tepi pantai dan lewatlah sebuah perahu di hadapan mereka berdua. Mereka bercakap-cakap dengan para penumpangnya agar mau mengangkut mereka. Karena sudah kenal dengan Khidhir, mereka lalu membawa keduanya tanpa bayaran. Khidhir beranjak ke salah satu papan perahu lalu dicabutnya. Musa as. berkata kepada Khidhir: Mereka telah membawa kita dengan cuma-cuma tetapi dengan sengaja perahu mereka kamu lobangi! Apakah kamu hendak menenggelamkan penumpangnya. Sesungguhnya kamu telah berbuat suatu kesalahan yang besar? Khidhir berkata: Bukankah aku telah berkata: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersamaku. Musa as. berkata: Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku. Selanjutnya mereka meninggalkan perahu tersebut. Saat mereka sedang berjalan di tepi pantai, tiba-tiba ada seorang anak remaja bermain dengan beberapa temannya. Khidhir memegang kepala anak itu lalu memenggalnya sehingga terbunuhlah ia. Musa as. berkata: Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih itu? Bukankah dia tidak membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar. Khidhir berkata: Bukankah sudah aku katakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan sabar bersamaku. Perbuatan ini lebih kejam lagi daripada yang pertama. Selanjutnya Musa as. berkata: Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah kali ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku. Maka keduanya berjalan, hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhir menegakkan dinding itu. Ia berkata: Miring, Khidhir mengisyaratkan dengan tangannya dan menegakkan dinding tersebut. Musa as. berkata kepada Khidhir: Orang-orang yang kita datangi tidak mau menerima kita sebagai tamu dan tidak mau menjamu kita. Jikalau kamu mau niscaya kamu mengambil upah untuk pekerjaan itu. Khidhir berkata: Inilah perpisahan kita. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang membuat kamu tidak sabar terhadapnya. Rasulullah saw. bersabda: Semoga Allah merahmati Musa. Aku akan senang sekali kalau saja Musa as. bisa bersabar sehingga dia dapat menceritakan kepada kita tentang pengalaman mereka berdua. Rasulullah saw. bersabda: Tindakan Musa as. yang pertama memang karena lupa. Beliau bersabda: Seekor burung terbang lalu hinggap pada tepi perahu itu dan mematuk ke laut. Khidhir lalu berkata kepadanya: Ilmu kita jika dibandingkan dengan ilmu Allah adalah seperti patukan seekor burung pipit tersebut pada laut itu

Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 4385

Sabtu, 10 April 2010

PESAN PRESIDEN RI KE 2 KE AL ZAYTUN




ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA






















































































Sabtu, 10 April 2010























Kegiatan Sosial

Pak Harto di Al-Zaytun

KEGIATAN SOSIAL 02: Kepedulian sosial dan pendidikan tampaknya tetap bergelora dalam diri mantan Presiden Soeharto. Kendati kondisi kesehatannya sudah sangat menurun, ternyata tidak menghalanginya untuk mengunjungi dan bersilaturahmi dengan eksponen dan santriwan/ti Ma’had Al-Zaytun (MAZ). Bahkan, pinisepuh Al-Zaytun itu, berkenan menginap semalam di kampus itu.

Selain untuk bersilaturahmi, bapak pembangunan Indonesia itu, didaulat meresmikan Gedung Perkuliahan Universitas Al-Zaytun Indonesia, yang dinamai Gedung Perkuliahan Jenderal Besar HM Soeharto. Upacara peresmian itu dihadiri 30-an ribu undangan, eksponen dan santri Al-Zaytun, Selasa, 23 Agustus 2005.


Bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-6, Pondok Pesantren Peradaban Berskala Dunia itu dikunjungi seorang tokoh terbesar Indonesia yang masih hidup saat ini.


Pak Harto datang sekitar pukul 16.30 Senin 22 Agustus 2005, dengan helikopter didampingi dua putrinya Hajjah Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut) dan Hajjah Siti Hediati (Mbak Titik). Syaykh al-Ma’had Abdussalam Panji Gumilang bersama isteri dan para eksponen MAZ menyambutnya di helipad di kampus itu. Kemudian dengan kendaraan yang sudah disediakan meluncur ke Wisma Al-Islah di kampus itu. Di loby wisma para dosen dan ekponen Yayasan Pesantren Indonesia lainnya menyambutnya berbaris rapih dan hormat.


Pak Harto, berpegangan dengan Syaykh Panji Gumilang, langsung naik lift ke lantai lima, tempatnya menginap semalam. Suatu hal yang sangat jarang dilakukannya, baik saat masih aktif sebagai presiden apalagi setelah mengundurkan diri dan terserang stroke. Tapi di Al-Zaytun, tampaknya dia seperti masuk ke rumah pribadi sendiri.


Bahkan apa saja makan yang disajikan, saat jamuan makan malam, sekitar pukul 19.00 Wib, disantapnya tanpa terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan oleh tim medis yang juga ikut menyertainya. Sambil menikmati menu makan malam, sesekali Pak Harto bertepuk tangan memberi aplaus kepada musisi Al-Zaytun yang mengalunkan lagu-lagu berirama keroncong dan Jawa.


Di sebuah meja bundar yang disetting sedemikan rupa di tengah ruangan jamuan makan di Wisma Al-Islah itu, seringkali Pak Harto terlihat tertawa dan manggut-manggut manakala mendengar obrolan Syaykh al-Ma’had Panji Gumilang. Mbak Tutut yang ada di sebelahnya, kadang kala terlihat memberi penjelasan atas sepatah dua kata Pak Harto yang diucapkan terbata-bata. Tampaknya, Pak Harto sangat sulit berkata-kata. Walaupun pembicaraan lawan bicaranya sangat dipahaminya.


Kemudian, Pak Harto memanggil Haryono Suyono, Mantan Menko Kesra dan Taskin, merapat duduk di antara Syaykh dan Pak Harto. Tampaknya ada sesuatu yang dibicarakan. Isi pembicaraan itu, diungkap Syaykh Panji Gumilang, saat memberi sambutan pada acara peresmian Gedung Perkuliahan Jenderal Besar Soeharto, esok harinya (23/8), bertepatan hari lahir Ibu Tien Soeharto. Rupanya, Syaykh menyampaikan niat Yayasan Pesantren Indonesia untuk membangun Rumah Sakit (hospital) di kampus itu, yang akan diberi nama Rumah Sakit Ibu Tien Soeharto. Pak Harto menyetujui dan menyambutnya dan menunjuk Haryono Suyono untuk mendukungnya.

Sangat Ceria
HM Soeharto, yang di masa mudanya dikenal sebagai jenderal lapangan (field general), itu meski secara fisik nyaris rapuh termakan usia dan penyakit yang menggerogoti tubuhnya tetap tampak bersemangat, berwibawa dan sangat ceria saat mengikuti acara peresmian gedung perkuliahan itu.


Upacara itu berlangsung meriah. Mulai pukul 7.30 pagi, segenap aktivitas pesantren yang berlokasi di Indramayu, Jawa Barat, itu telah berkumpul di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, yang memiliki daya tampung 150.000 jamaah.
Spanduk besar berkain warna hijau dengan tulisan “Perasmian Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto Universitas Al-Zaytun oleh Bapak Jenderal Besar H.M. Soeharto” terbentang di atas Mihrab Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Ma’had Al-Zaytun (MAZ).


Sekitar lima ribu orang santri MAZ memenuhi lantai dasar masjid terbesar di dunia, yang pembangunannya menelan biaya sebesar kurang lebih 14 juta dolar AS atau Rp 135 miliar itu. Sementara itu, di bagian luar masjid, sebanyak dua ribu santri berseragam kepanduan berbaris memanjang dua lajur saling berhadapan, dari gerbang luar sampai pintu masuk masjid. Di hadapan mereka terbentang karpet merah yang berakhir di depan panggung kecil, persis di depan mihrab.


Saat waktu menunjuk tepat pukul 9.30 pagi. Suasana khidmat. Yang dinanti-nantikan datang. Iring-iringan kendaraan yang membawa Pak Harto beserta rombongan memasuki halaman Masjid Rahmatan Lil ‘Alamain. Pak Harto dengan perlahan-lahan sekali menuruni tangga bis milik MAZ yang ditumpanginya. Bertopangan pada tongkat di tangan kanannya, dan tangan kiri dipegang oleh Syaykh Ma’had AS Panji Gumilang, Pak Harto berjalan dengan langkah tertatih-tatih memasuki masjid.


Senyum karismatis Pak Harto menebar ke seluruh hadirin yang menyesaki ruang dalam masjid. Ribuan bendera merah-putih dilambai-lambaikan oleh seluruh santriwan dan santriwati MAZ yang hampir dua jam menanti dengan penuh sabar di dalam masjid yang memiliki luas 99 meter x 99 meter itu, sebagai bentuk penyambutan atas kedatangan Jenderal Besar HM Soeharto.


Di barisan belakang, berjalan seiring mengikuti langkah perlahan Pak Harto dan Syaykh MAZ, selain rombongan keluarga, tim medis, para pengawal, dan para eksponen MAZ tampak antara lain dua putri beliau, Hajjah Siti Hardiyanti Rukmana (akrab disapa Mbak Tutut) dan Hajjah Siti Hediati (akrab disapa Mbak Titik), mantan Menko Kesra Taskin/mantan Kepala BKKBN/Wakil Ketua Yayasan Damandiri Haryono Suyono, mantan Menteri Koperasi Soebijakto Cakrawardoyo, Bendahara Yayasan Supersemar Subagio.


Acara diawali pembacaan kitab suci Al Quran dan pembacaan sari tilawahnya oleh dua santriwan/wati MAZ. Selanjutnya, Syaykh AS Panji Gumilang tampil ke atas mimbar, menyampaikan pidato sambutan selaku pimpinan MAZ.


“Anak-anakku pelajar putri dan pelajar putra yang saya dicintai, para guru, dosen, karyawan yang disanjung tinggi, pada hari ini Ma‘had Al-Zaytun dalam memasuki umur yang keenam tahun mendapatkan satu karunia besar dari Tuhan Yang Mahaesa. Perintis, pelaku dan Bapak Pembangunan Indonesia menghadiri, mengunjungi, dan bermalam di kampus Ma‘had Al-Zaytun. Ini merupakan suatu pendorong yang sangat bermakna bagi kader-kader bangsa Indonesia yang sedang belajar di Ma’had Al-Zaytun ini,” ucap Syaykh AS Panji Gumilang mengawali sambutannya.


“Kepada Bapak kita, Bapak Haji Muhammad Soeharto, Jenderal Besar TNI, kita sampaikan terima kasih sebesar-besarnya atas kepedulian terhadap anak bangsa yang sedang membangun, yang sedang meneruskan cita-cita pembangunan yang selama ini Bapak rintis. Doakan kami semua, sebagai generasi penerus perjuangan bangsa ini mampu meneruskan apa yang menjadi cita-cita dan visi Bapak selama meritis pembangunan Indonesia dari sejak diamanatkan menjadi pemimpin bangsa ini sampai detik ini, dan sampai kapan pun.”


Seusai pidato Syaykh MAZ, acara dilanjutkan pidato Pak Harto yang dibacakan oleh putrinya Mbak Tutut. Sebelum menyampaikan pidato Pak Harto, Mbak Tutut menyampaikan permohonan maaf Pak Harto yang tulus karena tidak bisa berkomunikasi secara langsung, dan membacakan langsung pidatonya.


Mbak Tutut juga mengisahkan sedikit latar belakang sejarah pembangunan gedung perkuliahan tersebut. Pembangunan Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto Universitas Al-Zaytun diprakarsai Syaykh AS Panji Gumilang, selaku pimpinan MAZ. Di satu kesempatan, Syaykh MAZ meminta ijin langsung kepada Pak Harto agar nama beliau dapat dicantumkan sebagai nama gedung tersebut, yang akan dibangun oleh MAZ, Pak Harto memberi izin dan menunjuk Yayasan Purnabakti Pertiwi untuk membantu proses pembangunan. Masih kata Mbak Tutut, Yayasan Purnabakti Pertiwi didirikan oleh almarhumah Ibu Hajjah Siti Fatimah Hartinah (Ibu Tien Soeharto), pada 23 Agustus 1983.
Yayasan yang bertujuan menyelenggara-kan kegiatan yang bersifat pendidikan sosial maupun agama itu diketuai oleh Ibu Tien Soeharto sampai akhir hayatnya.


Tanggal 23 Agustus kiranya punya makna khusus bagi MAZ. Alasannya, tanggal dan bulan peresmian Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto Universitas Al-Zaytun (23 Agustus 2005) bertepatan dengan ulang tahun Yayasan Purnabakti Pertiwi yang ke 32. Dan lebih kebetulan lagi, menurut Mbak tutut, tanggal 23 Agustus adalah hari kelahiran almarhumah Ibu Tien Soeharto.


Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto memiliki luas 25.000 m2 dan berlantai delapan itu direncanakan akan dipergunakan sebagai ruang kuliah dan laboratorium Fakultas Pertanian Terpadu, Fakultas Teknik, Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknologi Informasi, Fakultas Bahasa dan Ilmu Pendidikan, ruang pimpinan perkantoran serta ruang serba guna.


Pak Harto berharap, seperti disampaikan oleh Mbak Tutut, dengan adanya gedung itu akan bertambah lengkaplah sarana pendidikan MAZ sehingga tidak hanya akan dihasilkan ahli-ahli agama tetapi juga akan dilahirkan generasi penerus bangsa yang memiliki keahlian dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan.


Dalam pidatonya, Pak Harto tak lupa menyampaikan petuah kepada generasi muda MAZ khususnya dan Indonesia umumnya. Pak Harto melihat, dewasa ini Indonesia menjadi tempat berkumpulnya berbagai macam cita dan nilai serta berbagai macam paham ideologi.


“Bahkan Indonesia juga menjadi tempat perebutan kepentingan berbagai kekuatan dunia. Akibatnya tidak sedikit kelompok dalam masyarakat kita yang mulai ragu terhadap ajaran dan nilai-nilai yang selama ini kita yakini,” tandas Pak Harto.


“Sebaliknya, mereka juga masih bimbang untuk mengambil nilai-nilai yang baru. Keadaan yang demikian itu menyebabkan timbulnya kelompok masyarakat yang tidak stabil.”


Kondisi tersebut, Pak Harto mencermati, jelas akan membawa pengaruh yang tidak menguntungkan bagi perkembangan bangsa dan negara Indonesia yang telah dibangun, yang telah dipertahankan kemerdekaannya, dan yang telah dikembangkan sebagaimana wujudnya sekarang secara bersama-sama oleh rakyat Indonesia.


Khusus kepada segenap civitas akademika Ma’had yang dalam keseharian dinamikanya dihuni sekitar 12.691 orang itu, Pak Harto menitipkan pesan yang sangat bermakna: “Ilmu pengetahuan dan agama tidaklah harus bertentangan. Ilmu pengetahuan membawa kenyamanan hidup, agama membawa kebahagiaan hidup. Tanpa ilmu pengetahuan dan teknologi kita akan selalu hidup dalam keterbelakangan. Tanpa agama kita akan hidup dalam kecemasan dan kekhawatiran. Saya sangat berharap siswa-siswi Ma’had Al-Zaytun di bawah bimbingan para pimpinan dan guru yang profesional akan dapat mewujudkan cita-cita pembangunan bangsa dan negara yang kita cintai bersama ini.”


Sebagai tanda peresmian Gedung Perkuliahan Jenderal Besar HM Soeharto Universitas Al-Zaytun, Pak Harto didaulat untuk membuka tabir prasasti.


Kemudian, acara dilanjutkan dengan mengunjungi dan membuka pintu Gedung Perkuliahan Jenderal Besar H.M. Soeharto di Universitas Al-Zaytun, sekitar 300 meter dari Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin. Pak Harto membuka pintu gedung tersebut sebagai simbol dimulainya pemanfaatan gedung tersebut.


Menurut Syaykh MAZ, keberadaan Universitas Al-Zaytun mendapat sambutan besar dari masyarakat luas di seluruh Indonesia. Universitas Al-Zaytun yang diresmikan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, 27 Agustus 2005, bertepatan HUT MAZ, itu memiliki enam fakultas (Fakultas Pertanian Terpadu (S1) sebanyak 184 mahasiswa; Fakultas Pertanian Terpadu Diploma 261; Fakultas Teknik Terpadu (S1) 73 mahasiswa; Fakultas Teknik Terpadu Diploma 44 mahasiswa; Fakultas Kedokteran (S1) 139 mahasiswa; Fakultas Teknologi Informasi (S1) 117 mahasiswa; Fakultas Bahasa Terpadu (S1) 137 mahasiswa. ►mti/af, ms, mlp

***Majalah Tokoh Indonesia






























































































► e-ti/




















Copyright © 2002-2010 Ensikonesia - Ensiklopedi Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com. All right reserved.
Penerbit pt AsasirA. Design and Maintenance by Esero

Kamis, 08 April 2010

Yaa siin.
QS. Yasin (36) : 1

Demi Al Qur'an yang penuh hikmah,
QS. Yasin (36) : 2

sesungguhnya kamu salah seorang dari Rasul-rasul,
QS. Yasin (36) : 3

(yang berada) di atas jalan yang lurus,
QS. Yasin (36) : 4

(sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Penyayang,
QS. Yasin (36) : 5

agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.
QS. Yasin (36) : 6

Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman.
QS. Yasin (36) : 7

Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tengadah.
QS. Yasin (36) : 8

Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.
QS. Yasin (36) : 9

Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.
QS. Yasin (36) : 10

Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.
QS. Yasin (36) : 11

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).
QS. Yasin (36) : 12

Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka;
QS. Yasin (36) : 13

(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata:" Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang-xx diutus kepadamu ".
QS. Yasin (36) : 14

Mereka menjawab:" Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka ".
QS. Yasin (36) : 15

Mereka berkata:" Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu.
QS. Yasin (36) : 16

Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas ".
QS. Yasin (36) : 17

Mereka menjawab:" Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami ".
QS. Yasin (36) : 18

Utusan-utusan itu berkata:" Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas ".
QS. Yasin (36) : 19

Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata:" Wahai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu,
QS. Yasin (36) : 20

ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
QS. Yasin (36) : 21

Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakan dan yang hanya kepada-Nya kamu (semua) akan dikembalikan?
QS. Yasin (36) : 22

Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?
QS. Yasin (36) : 23

Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata.
QS. Yasin (36) : 24

Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.
QS. Yasin (36) : 25

Dikatakan (kepadanya): "Masuklah ke surga". Ia berkata: "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,
QS. Yasin (36) : 26

apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan".
QS. Yasin (36) : 27

Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya.
QS. Yasin (36) : 28

Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.
QS. Yasin (36) : 29

Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.
QS. Yasin (36) : 30

Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka.
QS. Yasin (36) : 31

Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami.
QS. Yasin (36) : 32

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.
QS. Yasin (36) : 33

Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air,
QS. Yasin (36) : 34

supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?
QS. Yasin (36) : 35

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.
QS. Yasin (36) : 36

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan,
QS. Yasin (36) : 37

dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
QS. Yasin (36) : 38

Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.
QS. Yasin (36) : 39

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
QS. Yasin (36) : 40

Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan,
QS. Yasin (36) : 41

dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti seperti bahtera itu.
QS. Yasin (36) : 42

Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan.
QS. Yasin (36) : 43

Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.
QS. Yasin (36) : 44

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat", (niscaya mereka berpaling).
QS. Yasin (36) : 45

Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya.
QS. Yasin (36) : 46

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Nafkahkanlah sebahagian dari rezeki yang diberikan Allah kepadamu", maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: "Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata".
QS. Yasin (36) : 47

Dan mereka berkata: "Bilakah (terjadinya) janji ini (hari berbangkit) jika kamu adalah orang-orang yang benar?"
QS. Yasin (36) : 48

Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.
QS. Yasin (36) : 49

Lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiatpun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya.
QS. Yasin (36) : 50

Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.
QS. Yasin (36) : 51

Mereka berkata: "Aduhai celakalah kami? Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?" Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya).
QS. Yasin (36) : 52

Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami.
QS. Yasin (36) : 53

Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.
QS. Yasin (36) : 54

Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).
QS. Yasin (36) : 55

Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.
QS. Yasin (36) : 56

Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta.
QS. Yasin (36) : 57

(Kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.
QS. Yasin (36) : 58

Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): "Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat.
QS. Yasin (36) : 59

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaithan? Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu",
QS. Yasin (36) : 60

dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.
QS. Yasin (36) : 61

Sesungguhnya syaithan itu telah menyesatkan sebahagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan?
QS. Yasin (36) : 62

Inilah Jahannam yang dahulu kamu di ancam (dengannya).
QS. Yasin (36) : 63

Masuklah ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya.
QS. Yasin (36) : 64

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.
QS. Yasin (36) : 65

Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba (mencari) jalan. Maka betapakah mereka dapat melihat (nya).
QS. Yasin (36) : 66

Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami robah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak (pula) sanggup kembali.
QS. Yasin (36) : 67

Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian (nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?
QS. Yasin (36) : 68

Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan,
QS. Yasin (36) : 69

supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.
QS. Yasin (36) : 70

Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya?
QS. Yasin (36) : 71

Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan.
QS. Yasin (36) : 72

Dan mereka memperoleh padanya manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?
QS. Yasin (36) : 73

Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan.
QS. Yasin (36) : 74

Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka.
QS. Yasin (36) : 75

Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan kamu. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.
QS. Yasin (36) : 76

Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!
QS. Yasin (36) : 77

Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?"
QS. Yasin (36) : 78

Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk,
QS. Yasin (36) : 79

yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu."
QS. Yasin (36) : 80

Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.
QS. Yasin (36) : 81

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka terjadilah ia.
QS. Yasin (36) : 82

Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.
QS. Yasin (36) : 83